Lebong, Kawalnews.com – Kasus dugaan keracunan massal yang terjadi di Kabupaten Lebong, Bengkulu, semakin meluas. Setelah sebelumnya ratusan siswa sekolah dasar (SD) dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Lebong, kini sejumlah pelajar sekolah menengah pertama (SMP) juga mengalami gejala serupa usai mengonsumsi makanan bergizi gratis (MBG) yang dibagikan pihak sekolah.
Gejala yang dirasakan para siswa hampir sama, mulai dari pusing, sakit perut, mual, hingga sesak napas. Kondisi ini membuat suasana RSUD Lebong penuh sesak karena banyaknya siswa yang datang bersamaan untuk mendapatkan perawatan medis.
Salah seorang wali murid, Yuliana (37), mengaku anaknya yang duduk di bangku kelas VIII SMP 05 Lebong mulai merasa tidak enak badan setelah menyantap makanan dari program MBG di sekolah.
“Anak saya merasa mabuk, perutnya sakit, dan sempat sesak napas setelah makan makanan dari sekolah. Awalnya kami kira hanya masuk angin, tapi setelah tahu banyak siswa lain yang mengalami hal sama, kami langsung membawanya ke rumah sakit,” ujarnya, Rabu (27/8/2025).

Menu makanan yang dibagikan dalam program MBG tersebut terdiri dari mi, tahu goreng, bakso, sayur pucuk, dan buah jeruk. Menurut pengakuan beberapa siswa, gejala mulai muncul sekitar 30 menit setelah makanan tersebut dikonsumsi.
Pantauan di RSUD Lebong, antrean panjang terlihat di ruang instalasi gawat darurat (IGD). Para tenaga medis terlihat sibuk menangani siswa yang datang dengan keluhan beragam. Sebagian anak hanya mengalami mual dan pusing ringan, sementara sebagian lainnya harus mendapat penanganan lebih intensif karena sempat mengalami sesak napas.
Pelajar SMP yang turut menjadi korban keracunan dilaporkan berasal dari SMP 05 Lebong di Talang Liak dan SMP 16 Lebong di Ujung Tanjung. Para guru dan orang tua tampak panik, mengingat kasus ini sebelumnya hanya menimpa siswa SD, namun kini juga menyasar jenjang SMP.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Lebong, dr. Rini Handayani, mengatakan pihaknya masih melakukan penyelidikan terkait dugaan keracunan tersebut. Sampel makanan telah dibawa untuk diuji laboratorium guna memastikan penyebab pasti kejadian.
“Untuk sementara, kami belum bisa memastikan apakah benar keracunan makanan. Namun, karena sebagian besar siswa yang mengonsumsi menu MBG menunjukkan gejala yang sama, dugaan kuat memang mengarah ke makanan tersebut. Saat ini sampel sedang kami periksa,” ujarnya.
Ia juga menambahkan, tim kesehatan telah dikerahkan ke sekolah-sekolah untuk melakukan pemantauan. Selain itu, Dinkes juga membuka posko darurat di RSUD Lebong untuk mempercepat penanganan korban.
Sementara itu, pihak sekolah mengaku terkejut atas insiden ini. Program MBG yang biasanya bertujuan meningkatkan gizi siswa justru menimbulkan masalah kesehatan. “Kami menunggu hasil penyelidikan dari pihak berwenang. Yang terpenting saat ini adalah memastikan para siswa mendapat perawatan yang baik,” kata salah satu guru yang enggan disebutkan namanya.
Hingga berita ini diturunkan, jumlah pasti korban belum dapat dipastikan. Namun, diperkirakan ratusan siswa dari tingkat SD dan SMP telah mendapat penanganan medis di RSUD Lebong. Suasana rumah sakit masih dipenuhi keluarga korban yang menunggu kabar kondisi anak-anak mereka.
Kasus dugaan keracunan massal ini menambah catatan panjang insiden kesehatan di daerah. Masyarakat berharap pemerintah daerah dapat segera mengusut tuntas penyebabnya dan memastikan kejadian serupa tidak terulang kembali. (Andra)
