Bukit Sanggul Terancam, Seluma Emas Untuk Siapa?

by redaksi redaksi
0 comment

Oleh: Sahipul Anwar, SH (Direktur Green Sumatra)

Seluma, Kawalnews.com – Kabupaten Seluma, salah satu daerah di Provinsi Bengkulu yang dikenal dengan kekayaan alam dan keindahan bentang alamnya, kini dihadapkan pada ancaman besar. Rencana pembukaan tambang emas di kawasan Bukit Sanggul memunculkan kekhawatiran mendalam di tengah masyarakat. Bagi sebagian pihak, proyek tambang ini disebut sebagai langkah menuju kemakmuran. Namun, bagi kami yang peduli terhadap kelestarian lingkungan, rencana ini justru tampak seperti bencana yang sedang menunggu untuk terjadi.

Sebagai putra daerah Seluma dan Direktur Green Sumatra, saya, Sahipul Anwar, SH, dengan tegas menyatakan penolakan terhadap rencana penambangan emas tersebut. Bukit Sanggul bukan sekadar kawasan berbukit dengan potensi mineral, tetapi merupakan bagian penting dari ekosistem Seluma. Di sanalah sumber air mengalir, habitat flora dan fauna hidup, serta masyarakat sekitar menggantungkan hidup dari hasil hutan dan pertanian. Bila tambang emas benar-benar dibuka, maka dampaknya akan terasa hingga jauh ke wilayah hilir — mencemari sungai, merusak lahan pertanian, dan mengancam sumber air bersih yang menjadi penopang kehidupan ribuan warga.

Kita tidak boleh menutup mata terhadap pengalaman pahit di daerah lain di Bengkulu. Lihatlah Bengkulu Tengah dan Bengkulu Utara — dua daerah yang dulunya digadang-gadang akan makmur berkat tambang batu bara. Faktanya, kekayaan alam di sana justru dikeruk habis-habisan, sementara masyarakat sekitar hanya mendapatkan debu, jalan rusak, dan sungai yang tercemar. Tidak sedikit pula konflik sosial yang muncul akibat perebutan lahan dan ketimpangan ekonomi yang melebar.

Ironisnya, kekayaan hasil tambang itu tidak mengalir ke rakyat, melainkan ke kantong segelintir pihak. Kasus-kasus korupsi yang sempat ditangani Kejaksaan Tinggi Bengkulu menjadi bukti nyata bahwa praktik pertambangan di provinsi ini masih jauh dari prinsip keadilan sosial dan keberlanjutan lingkungan. Apakah Seluma akan mengulangi kesalahan yang sama? Apakah kita rela menyaksikan Bukit Sanggul dihancurkan hanya demi janji kesejahteraan semu?

Pertanyaan besar pun muncul: “Seluma Emas untuk siapa?”
Apakah emas itu untuk rakyat Seluma yang hidup sederhana dan menggantungkan hidup pada alam? Ataukah emas itu justru akan memperkaya segelintir investor dan elite politik yang menjadikan sumber daya alam sebagai komoditas untuk kepentingan pribadi?

Seluma harus belajar dari sejarah. Pembangunan daerah tidak boleh lagi bertumpu pada eksploitasi sumber daya alam yang merusak dan tidak berkelanjutan. Sudah saatnya kita mengubah paradigma pembangunan menuju ekonomi hijau dan berkeadilan. Potensi besar Seluma bukan terletak pada isi perut buminya, tetapi pada kekayaan hayati, budaya, dan sumber daya manusia yang dimilikinya.

Kita bisa mengembangkan sektor pertanian berkelanjutan, ekowisata, dan ekonomi kreatif yang memberikan nilai tambah tanpa harus menghancurkan alam. Kawasan Bukit Sanggul sendiri dapat dijadikan destinasi wisata alam dan edukasi lingkungan yang tidak hanya menjaga kelestarian, tetapi juga membuka lapangan kerja bagi masyarakat lokal. Dengan pendekatan semacam ini, kesejahteraan rakyat dan kelestarian alam bisa berjalan beriringan.

Saya mengajak Pemerintah Daerah Seluma dan Pemerintah Pusat untuk berpikir lebih bijak dan visioner. Jangan biarkan kepentingan ekonomi jangka pendek mengorbankan masa depan masyarakat dan anak cucu kita. Nilai ekologis Bukit Sanggul jauh lebih berharga daripada keuntungan sesaat dari hasil tambang yang hanya bertahan sementara.

Kini saatnya masyarakat Seluma bersatu. Suara rakyat harus menjadi kekuatan utama dalam menjaga tanah kelahiran kita. Mari kita katakan dengan lantang: “Tidak untuk tambang emas di Bukit Sanggul!” Mari kita lindungi alam, karena dari sanalah kehidupan kita berasal.

Kita tidak ingin “Seluma Emas” hanya menjadi slogan kosong atau mimpi buruk yang menyisakan luka bagi generasi mendatang. Seluma harus menjadi contoh bahwa daerah bisa maju tanpa merusak alamnya. Dengan kesadaran bersama, kerja keras, dan cinta terhadap tanah kelahiran, kita bisa mewujudkan Seluma yang lestari, adil, dan sejahtera untuk semua.

You may also like

Leave a Comment